Workshop Jurnalis 'Pasar Modal Indonesia' 2026 di Banjarmasin

Reportase Indonesia
Kamis, 30 April 2026, 11:44 WIB Last Updated 2026-04-30T06:09:01Z
---

Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Selatan


REPORTASEINDONESIAN.COM, BANJARMASIN - Yuniar Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Kalimantan Selatan mengungkapkan BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI juga memperkenalkan reformasi transparansi pasar modal Indonesia.
 

Baca Juga: “Tantangan dan Peluang Pariwisata Kota Banjarmasin ke Depan” di Evening Dialogue

 

“Reformasi tersebut mencakup pengungkapan nama pemegang saham di atas 1 persen, peningkatan minimum free float menjadi 15 persen, hingga penguatan klasifikasi investor yang lebih granular,” ucap Yuniar dalam Workshop Wartawan Daerah di Bon Café Duta Mall Banjarmasin, Rabu (29/4/2026).

 

Menurut Yuniar, BEI menilai langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan transparansi dan perlindungan investor. Salah satu kebijakan yang diperkenalkan adalah pengumuman saham dengan kepemilikan terkonsentrasi atau High Shareholder Concentration.

 

“Melalui kebijakan itu, publik dapat mengetahui saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok kecil pemegang saham sehingga berpotensi memiliki volatilitas tinggi,” tukasnya.

 

Baca Juga: “Tantangan dan Peluang Pariwisata Kota Banjarmasin ke Depan” di Evening Dialogue

 

Bahkan, sambungnya, BEI juga menetapkan peningkatan ketentuan free float minimum menjadi 15 persen agar likuiditas pasar modal Indonesia meningkat dan selaras dengan praktik terbaik bursa global.

 

Ketentuan tersebut akan diterapkan secara bertahap hingga 2029 berdasarkan kapitalisasi pasar dan persentase free float masing-masing emiten.

 

Sektor Potensial di Tengah Ketidakpastian

 

Di tengah tekanan pasar global, sejumlah sektor masih dinilai memiliki prospek positif pada 2026. Sektor consumer non-cyclical disebut relatif defensif karena ditopang kebutuhan pokok masyarakat dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

Baca Juga: “Tantangan dan Peluang Pariwisata Kota Banjarmasin ke Depan” di Evening Dialogue 

 

Sementara sektor perbankan dinilai masih menarik meski menghadapi tekanan margin bunga dan capital outflow asing. BEI mencatat sektor perbankan tetap didukung pertumbuhan kredit serta potensi stimulus pemerintah.

 

Pada sektor basic material, saham berbasis nikel dan emas dinilai masih memiliki prospek positif karena didukung harga komoditas dan transisi energi global. Emiten seperti MDKA, INCO, ANTM, dan TINS disebut memiliki peluang pertumbuhan laba yang kuat.

 

Sementara itu, sektor kesehatan dinilai tetap defensif untuk investasi jangka panjang karena permintaan layanan medis yang stabil. Namun pelemahan rupiah disebut dapat menekan margin emiten farmasi yang masih bergantung pada bahan baku impor. (*)

 

Komentar

Tampilkan

Terkini