![]() |
| DISTRIBUSI BBM - Nelayan Kuala Tambangan Kecamatan Takisung Kabupaten Tala saat menyampaikan distribusi yang dinilai cukup aman dalam ketersediaan BBM bersubsidi solar, Jumat (15/5/2026). (foto:ars) |
REPORTASEINDONESIA.COM, PELAIHARI – Nelayan di Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut (Tala), menilai distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar untuk kebutuhan melaut selama ini berjalan lancar melalui sistem jasa angkutan yang telah disepakati bersama.
Baca Juga: Villa Palawan Tahura Sultan Adam, Yuk Nginap Liburan
Menepis isu dugaan adanya mafia solar subsidi di wilayah tersebut, para nelayan menyebut mekanisme distribusi dilakukan terbuka berdasarkan barcode dan kuota masing-masing nelayan.
Salah seorang nelayan, Juandi mengatakan, penggunaan jasa angkutan dilakukan karena sebagian nelayan tidak sempat mengambil langsung BBM ke SPBUN, sehingga dipercayakan kepada pihak kedua untuk mengantarkan solar sesuai barcode dan jatah masing-masing.
“Warga mempercayakan kepada pihak kedua sebagai pengangkutan solar bagi nelayan di sini. Kami sepakat memberi biaya tambahan angkut. Jadi kalau nelayan belum bayar atau hanya pesan duluan, pengantarannya bisa beberapa hari kemudian,” ujarnya kepada awak media di Pelaihari.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut yang kerap menimbulkan kesalahpahaman di lapangan. Sebab ada nelayan yang mendapat pengantaran lebih dari satu kali karena langsung melakukan pembayaran kembali saat BBM tersedia.
Baca Juga: Villa Palawan Tahura Sultan Adam, Yuk Nginap Liburan
Menurut Juandi, hal itu bukan bentuk penyimpangan, melainkan bagian dari mekanisme distribusi yang telah berjalan di kalangan nelayan setempat.
Sementara itu, pengangkut BBM bernama Jali menuturkan dirinya membeli solar sesuai barcode milik nelayan ke SPBUN. Namun dalam praktiknya, tidak semua nelayan langsung melakukan pembayaran saat BBM ditebus.
“Kami membeli sesuai barcode nelayan. Tapi ada juga nelayan yang belum bayar setelah pembelian dilakukan, jadi kami tidak bisa terus menalangi semuanya,” katanya.
Jali menegaskan jasa angkutan BBM yang dilakukan pihaknya murni untuk membantu nelayan memperoleh solar subsidi secara lebih mudah. “Tidak ada mafia. Kami hanya membantu pengangkutan BBM untuk nelayan.
Baca Juga: Villa Palawan Tahura Sultan Adam, Yuk Nginap Liburan
Kalau nelayan belum punya uang atau belum bayar duluan, tentu pengantarannya menunggu,” tegasnya. Jali menyebutkan, jatah BBM nelayan Kuala Tambangan mencapai 61 ribu liter yang disalurkan melalui SPBUN setempat.
Sementara untuk kelompok jasa angkutan miliknya sendiri tercatat menangani sekitar 4.460 liter dalam dua kali pengantaran.
“Kalau ditotal ada beberapa kelompok pengangkut lain juga. Jadi distribusi sebenarnya cukup, hanya kendalanya kadang pembayaran nelayan belum siap,” jelasnya.
Baca Juga: Villa Palawan Tahura Sultan Adam, Yuk Nginap Liburan
Selain biaya solar sesuai harga resmi Rp6.800 per liter, nelayan juga sepakat memberikan tambahan Rp200 per liter untuk jasa angkut serta Rp200 lainnya untuk iuran kegiatan keagamaan warga.
“Kami tidak keberatan karena iuran itu dipakai untuk kegiatan bersama seperti haul, pengajian, kurban sampai peralatan dapur kegiatan maulid,” ujar Arul, salah seorang nelayan lainnya.
Menurut data yang disampaikan warga, terdapat sekitar 219 klotok nelayan di Kuala Tambangan yang mendapatkan jatah BBM bersubsidi dengan besaran berbeda sesuai jenis mesin kapal. “Harapannya distribusi BBM tetap lancar karena nelayan sangat bergantung dengan solar untuk melaut,” pungkasnya.
Penulis : ars
Editor : Suyi
