REPORTASEINDONESIAN.COM, MARTAPURA– Jajaran Forum Kerukunan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK) Kalimantan Selatan menghadiri kegiatan Aruh Adat yang digelar masyarakat adat Dayak di Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar baru baru tadi.
Kehadiran FKPWK menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Rombongan FKPWK dipimpin Pembina FKPWK Kalsel H. Junaidi, Ketua Umum DPP FKPWK H. Rachmad Fadillah SH, serta Ketua Dewan Penasihat Dr. Drs. H. Murjani SH M.Kes.
Ketua PD AMAN Banjar, Robby, mengatakan Aruh Adat merupakan tradisi masyarakat Dayak Paramasan yang sarat dengan nilai gotong royong, kebersamaan, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta penghormatan terhadap leluhur dan alam.
Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan seluruh masyarakat adat. Nilai-nilai tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dijaga hingga kini.
Pembina FKPWK Kalsel H. Junaidi mengapresiasi masyarakat Dayak Paramasan yang tetap menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
"Budaya adalah identitas bangsa. Aruh Adat bukan sekadar seremoni, tetapi mengajarkan persatuan, gotong royong, penghormatan kepada alam, dan kebersamaan. Nilai-nilai seperti ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.
Ketua Umum DPP FKPWK H. Rachmad Fadillah SH berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya masyarakat adat, termasuk melalui pembinaan, promosi, dan pengembangan potensi wisata budaya.
"Kami berharap pemerintah terus hadir mendukung masyarakat adat, baik dalam pelestarian budaya maupun pemberdayaan ekonomi. Aruh Adat memiliki potensi besar sebagai kekayaan budaya sekaligus daya tarik wisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat FKPWK Dr. Drs. H. Murjani SH M.Kes menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Aruh Adat sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
"Semangat gotong royong, saling menghormati, menjaga keharmonisan dengan sesama dan alam merupakan warisan yang sangat berharga. Jangan sampai budaya lokal tergerus oleh perkembangan zaman. Semua pihak harus bersama-sama menjaganya," tuturnya.
Aruh Adat Dayak Paramasan sendiri merupakan tradisi tahunan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang dilaksanakan melalui berbagai prosesi adat, tarian tradisional, serta doa bersama. Tradisi tersebut juga menjadi simbol persatuan masyarakat adat dan terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Banjar.
Penulis Editor: Suyi


