Dari Indonesia ke Luxembourg, Kisah Cristina dan Potret Berbeda Nasib Guru di Dua Negara


GURU SD – Cristina, perempuan asal Indonesia yang kini mengajar di sekolah dasar di Luxembourg. Kisah perjuangannya menjadi sorotan setelah membandinkan kesejahteraan guru di Luxembourg dengan kondisi sebagian guru di Indonesia. (foto: istimewa)

REPORTASEINDONESIAN.COM

LUXEMBOURG – Perjalanan menjadi seorang guru di negeri orang ternyata tidak selalu semulus yang terlihat. Di balik ruang kelas yang nyaman dan penghargaan terhadap profesi pendidik, ada perjuangan panjang yang harus dilewati.

Salah satunya dialami Cristina Susilowati, perempuan asal Indonesia yang kini mengajar di sekolah dasar di Luxembourg.

Di negeri yang dikenal memiliki tingkat kesejahteraan tinggi itu, Cristina harus melewati proses panjang sebelum akhirnya bisa berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak.

Persyaratan bahasa menjadi salah satu tantangan terbesar. Lingkungan pendidikan Luxembourg menggunakan beberapa bahasa, sehingga kemampuan berbahasa menjadi bagian penting dalam prosesnya.

Cristina mengaku masa-masa awalnya di Luxembourg bukanlah periode mudah. Ia harus beradaptasi, mengurus penyetaraan kualifikasi pendidikan sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa.

Pekerjaan serabutan pun sempat dilakoninya untuk bertahan hidup sembari mengejar cita-cita menjadi guru.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika kesempatan mengajar datang. Dari seorang pendatang yang harus berjuang menyesuaikan diri, Cristina kemudian menjalani profesinya sebagai guru sekolah dasar.

Kisahnya kemudian menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana profesi guru dihargai di negara maju, sekaligus membuka kembali pembicaraan mengenai kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia.

Bagi Cristina, penghargaan terhadap guru bukan semata-mata soal besarnya penghasilan.

 Lebih dari itu, bagaimana seorang pendidik dapat menjalankan profesinya dengan kehidupan yang layak dan tanpa harus terus memikirkan kebutuhan dasar.

Kisah tersebut mendapat perhatian dari H. Junaidi, pembina Organisasi Rakyat Indonesia ( ORI ) Kalsel.

Menurut Junaidi, cerita Cristina menjadi cerminan menarik mengenai perbedaan sistem penghargaan terhadap profesi guru di berbagai negara.

“Ini menjadi gambaran bagaimana sebuah negara menempatkan profesi guru sebagai bagian penting dalam membangun masa depan. Tentu kita juga berharap kesejahteraan guru di Indonesia terus mendapat perhatian,” ujar pria yang juga pembina Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK ) ini 

Menurutnya, persoalan kesejahteraan guru, khususnya tenaga honorer dan pendidik yang bertugas di daerah terpencil, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bertahap.

“Guru memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas generasi bangsa. Karena itu, penghargaan kepada mereka jangan berhenti pada slogan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi juga harus diwujudkan melalui kesejahteraan dan kepastian dalam menjalankan profesinya,” katanya.

Junaidi menilai kisah Cristina seharusnya tidak hanya dilihat dari angka penghasilan seorang guru di Luxembourg.

 Ada pesan yang lebih besar, yakni pentingnya negara membangun sistem pendidikan yang mampu membuat para pendidik merasa dihargai dan terlindungi.

Sebab, di berbagai pelosok Indonesia masih banyak guru yang tetap berdiri di depan kelas dalam kondisi penuh keterbatasan. Mereka tetap mengajar meski fasilitas pendidikan belum sepenuhnya memadai dan tantangan geografis tidak ringan.

Dari Luxembourg, kisah Cristina akhirnya membawa satu pesan sederhana: ketika seorang guru dihargai, yang sesungguhnya sedang dihargai adalah masa depan anak-anak dan masa depan sebuah bangsa.


Penulis : Arsa

Editor : Suyi 

suma08
suma08 Terus berproses, semoga berkah